17 Maret 2014

Ikhlas

Shalat yang kita dirikan setiap harinya mengandung pesan filosofis kehidupan yang sangat indah. Tatkala seorang hamba berdiri tegak setelah ia bertakbiratul ihram, hal itu menggambarkan filosofi api, berdiri tegak menjulang vertikal, tegas dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Rukuk, menggambarkan filosofi angin yang menghembus lurus horizontal berkekuatan dahsyat mempengaruhi kondisi disekitarnya. Sujud, menandakan filosofi air yang mengalir menuju tempat yang rendah, mengandung maksud agar seorang hamba senantiasa menjaga diri dari sifat sombong dan selalu berhati low profile. Duduk diantara dua sujud menggambarkan filosofi gunung, ia kokoh kuat tak tergoyahkan untuk menjaga bumi agar tidak goncang. Benar-benar shalat mencerminkan sarana seorang hamba untuk bersatu dengan alam, dimana unsur api, angin, air, bumi yang merupakan empat unsur terpenting dalam hidup senantiasa menyertainya.
Pada akhirnya  gerakan shalat menjadi sangat istimewa karena mengandung filosofi cinta, hal ini ditunjukan dengan ucapan salam diakhir shalat, ucapan yang menyebarkan rahmat ke alam semesta, assalamu'alaikum warahmatullah dan assalamu'alaikum warahmatullah. Namun kesempurnaan lima unsur diatas tidak akan menjadi kekal abadi berada dalam diri seorang hamba jika unsur yang paling mulia tidak ada, yakni unsur yang lebih tinggi dari cinta, lebih lembut dari sayang dan lebih hakiki dari kasih. Itulah ikhlas, sebuah unsur yang memandang segala sesuatu dimuka bumi ini sebagai rahmat dari Yang Maha Esa dan Kuasa, sehingga dia melewatkan detik demi detik hidupnya semata-mata demi mencari ridho-Nya, tanpa ia harus dicintai atau disayangi bahkan dikasihi terlebih dahulu. Semoga kita dapat mencapai derajat kemuliaan ikhlas tersebut, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar