SETETES
PENGKHIDMATAN UNTUK MATA DI KALBAR
Diantara
gangguan penglihatan yang umum terjadi adalah rabun jauh (myopi), rabun
dekat (hypermyopi) dan mata tua (presbyopi). Rabun jauh terjadi
karena sistem optik yang sangat kuat pembiasannya, sehingga fokus bayangan
benda yang dilihat akan jatuh didepan retina. Dengan demikian mata tidak mampu
melihat objek yang relative jauh dengan jelas. Rabun jauh dapat diatasi dengan penggunaan kaca mata lensa
cekung (kacamata minus). Sebaliknya, pada penderita hypermyopi, bayangan benda
yang dilihat jatuh dibelakang retina, dikarenakan lemahnya sistem optic dan
lensa mata terlalu pipih. Hal ini mengakibatkan para penderita rabun dekat tidak mampu
melihat dengan jelas benda dalam jarak dekat. Hypermetropi dapat diatasi
dengan memakai kaca mata lensa cembung (kacamata plus). Sementara itu, presbyopi merupakan istilah yang
digunakan bagi orang-orang berusia diatas 40 tahun yang mengalami penurunan
elastisitas lensa.
Penderita presbyopi tidak dapat melihat dengan jelas benda jarak dekat
maupun jauh. Cara mengatasi presbyopi adalah
dengan memakai kacamata berlensa rangkap, yaitu bagian atas berlensa cekung
(negatif) dan bagian bawah berlensa cembung (positif).
Dalam rangka membantu masyarakat
yang mengalami gangguan mata, Humanity First Indonesia, yang salah satu tujuan
pendiriannya adalah untuk menguatkan kapasitas kemampuan masyarakat agar mampu
menolong dirinya sendiri, melaksanakan pengkhidmatan perdananya diwilayah
Kalimantan Barat. Bertempat di Desa Balai Harapan (Balaigana), Kecamatan
Tempunak, Kabupaten Sintang, Humanity First Indonesia Tim Kalbar menggelar
pemeriksaan mata standar optik dan pembagian kaca mata gratis bagi masyarakat
yang membutuhkan, juga pangkas rambut cuma-cuma bagi kaum bapak didaerah ini. Dilaksanakan
pada hari Sabtu dan minggu tanggal 13-14 April 2013 yang lalu, Bakti Sosial ini
melibatkan dan terwujud berkat kerjasama dari berbagai pihak.
Pada kesempatan tersebut, tiga
orang praktisi optik yang merupakan sukarelawan HF bersiap disebuah ruangan
berdinding kayu berukuran 3x6 meter yang berlantaikan semen, disamping rumah
kepala desa. Lengkap dengan deretan kursi kayu dan plastik, sebuah meja panjang
tempat meletakkan kaca mata untuk memeriksa dan berbagai sampel frame kaca
mata, serta dua buah tempelan didinding yang berisi huruf-huruf berbagai ukuran
untuk menentukan sejauh mana kualitas penglihatan peserta. Dibagian depan
ruangan, dua orang ahli pangkas rambut juga bersiap dengan alat cukurnya.
Ditandai dengan sebuah spanduk bertuliskan 'Humanity First Indonesia, Mengkhidmati
Kemanusiaan', dan tempelan kertas-kertas putih berlaminating berisi profil HF,
ruangan tersebut disulap menjadi sebuah posko pengkhidmatan.
Tepat pada pukul 9 pagi, satu
persatu masyarakat yang sebelumnya telah dibagikan kupon pemeriksaan melalui RT
setempat mulai berdatangan. Cuaca cerah cenderung terik tidak menyurutkan
semangat mereka untuk melangkahkan kaki ketempat kegiatan berlangsung. Mulanya
para warga yang hadir diminta untuk memperlihatkan kupon yang dimiliki, lalu
mereka diperiksa matanya dengan menggunakan sebuah alat yang serupa dengan kaca
mata namun lebih tebal, dan pada bagian didepannya terdapat rongga tempat lensa
yang dapat diganti-ganti. Dalam prosesnya, mereka diminta untuk menyebutkan
huruf-huruf yang terpampang dengan jarak dua meter dihadapan mereka, sehingga
dapat ditentukan apakah mereka mengalami gangguan atau tidak, jenis serta
besarnya gangguan penglihatan yang diderita. Jika dari hasil pemeriksaan
ternyata peserta positif mengalami gangguan dan telah diketahui jenis serta
besar lensa yang dibutuhkan, mereka kemudian diminta untuk memilih bentuk frame
yang diinginkan dan didata secara lengkap.
Diantara warga yang diperiksa
matanya adalah seorang nenek berpawakan mungil namun masih tampak segar dan bersemangat.
Ketika sang nenek tengah diperiksa, ada hal menarik yang terjadi. Setiap kali
ditanya ‘Huruf apa ini nek?’ dengan menunjuk salah satu huruf yang tersedia,
sang nenek hanya menggelengkan kepalanya dan terdiam seribu bahasa. Selidik
punya selidik, ternyata sang nenek tidak dapat membaca!. Sang nenek juga tidak
dapat mengenali huruf arab dan angka-angka yang diperlihatkan. Akhirnya, untuk
mengukur kualitas penglihatan sang nenek, praktisi optic HF meminta sang nenek
untuk memasukkan benang kedalam jarum. Pemeriksaanpun dapat berjalan dengan
baik.
Selama dua hari pengkhidmatan, Alhamdulillah
kegiatan pemeriksaan dapat berlangsung dengan lancar tanpa kendala yang
berarti. Dengan Karunia Allah swt tercatat sebanyak 95 orang warga diperiksa
matanya. Adapun yang kemudian membutuhkan bantuan kaca mata dari hasil
pemeriksaan, tercatat sebanyak 86 orang dari berbagai usia. Kaca mata dibagikan
secara cuma-cuma dua minggu kemudian kepada yang bersangkutan.
Kenyataan ini semakin menyadarkan kita, bahwa orang-orang dengan gangguan penglihatan mata memang cukup besar jumlahnya. Selain dikarenakan faktor genetis (keturunan), pola makan dan pola hidup juga mempengaruhi hal tersebut. Namun kesemuanya dapat dicegah. Diantara yang dapat dilakukan untuk mencegah rabun jauh adalah dengan mengkonsumsi makanan bergizi yang mendukung kesehatan mata seperti : telur, brokoli, alpukat, wortel dan bayam, serta menghindari kebiasaan buruk seperti membaca dan melihat media visual (TV, computer, gadget) dari jarak dekat secara terus-menerus dengan pencahayaan minim. Sementara untuk presbyopi memang sulit dicegah karena merupakan proses alamiah dari penuaan, namun prosesnya dapat diperlambat dengan menjaga mata dari terpaan sinar matahari langsung, lalu berupaya untuk melihat objek yang dekat secara periodik dan mengkonsumsi makanan bergizi yang mendukung kesehatan mata sebagaimana rabun jauh.
Sementara itu dibagian pangkas
rambut, para pria dari berbagai usia dan kalangan mengantri untuk dicukur
rambutnya. Mereka dengan sabar menunggu giliran. Mulai dari balita, anak-anak
usia sekolah hingga remaja, bapak-bapak bahkan kakek-kakekpun turut serta. Alat
cukur elektrik yang dipegang oleh tangan-tangan pemangkas berkaos HF ini terus
bekerja dengan lincah dan terampil diatas kepala-kepala para peserta. Ada yang
minta untuk digundul, dicepak atau hanya sekedar dirapihkan, rambut-rambutpun
berjatuhan. Hasilnya tercatat sebanyak 91 orang yang dipangkas rambutnya selama
dua hari pengkhidmatan.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi, sebagaimana tingginya semangat
para pengkhidmat diwilayah ini. Tetes-tetes
hujan mengantarkan peserta terakhir beranjak dari posko. Diikuti hujan deras
yang kemudian mengguyur kawasan tersebut. Hujan sangat deras sore itu, sederas
doa kami agar Karunia dan Keridhoan Allah Ta’ala tercurah dalam pengkhidmatan
ini. Agar setetes pengkhidmatan ini dapat kami lanjutkan dengan tetes-tetes
pengkhidmatan berikutnya, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar